Wednesday, 28 October 2009

KAMI MENAWARKAN ULOS UNTUK PESTA


Kami menawarkan paket ulos untuk keperluan pesta (17 ulos, Toba). Dengan paket harga

I. Paket Delux (Ekslusif) Rp. 2.500.000
II. Paket Medium Rp. 1.800.000
III. Paket Hemat Rp. 1.000.000


Kami juga peralatan kepeluan adat dan songket simalungun. Bagi rekan-rekan yang berminat dapat menghubungi kami melalui nomor 085925077652, dimana ulos, peralatan dan songket kami datangkan langsung dari Pematang Siantar, dimana harga yang kami tawarkan murah meriah.

Friday, 21 August 2009

TIDAK PERNAH CEKCOK!! MASA, SIH??


Seringkali percekcokan pasutri berakhir tragedi, perceraian, KDRT, pembunuhan. Bahkan dampak dari konflik suami istri tidak hanya dirasakan oleh keduanya namun juga kepada anak-anaknya.

Berbagai penelitian menunjukkan percekcokan dan kekerasan rumah tangga dapat mengakibatkan trauma dan berdampak tidak baik bagi perkembangan jiwa anak. Apalagi jika sampai bercerai, ini akan menimbulkan luka dalam diri si anak.

Anehnya seringkali seorang suami atau istri bisa begitu kasar dengan pasangannya namun sangat santun teman-temannya. Seorang suami atau istri tega melakukan kekerasan dengan orang yang terbukti telah mengasihinya, karena bersedia hidup bersamanya dengan segala konsekuensi. Padahal dengan teman-temannya atau orang lain ia lebih sabar dan tidak berani melakukan hal yang sama.

Tentu ini adalah ironi. Mengapa kita seringkali tega menyakiti pasangan kita dengan kejam dari pada orang yang mungkin tidak mengasihi kita. Oleh sebab itu kita perlu mengetahui mengapa percekcokan itu bisa muncul dalam hubungan rumah tangga yang kadang bisa berakhir dengan perlakuan yang tidak semestinya.

Ia Miliku
Kebanyakan dari kita membangun rumah tangga dengan sebuah pandangan keliru. Kita mungkin tidak menyadari hal tersebut di awal pernikahannya. Namun lambat laun pandangan tersebut akan muncul dengan berjalannya waktu. Yakni bahwa pasangan kita adalah ”hak milik kita”.

Mengapa seorang pria sangat berhati-hati memperlakukan pasangannya ketika pacaran berubah menjadi ”sembrono” ketika telah menjadi istrinya. Lisa tidak habis pikir bagaimana suaminya yang sebelum menikah begitu lembut dan perhatian, namun saat ini berubah menjadi orang yang cuek dan cenderung kasar. Ia kemudian menyalahkan dirinya, ” Aku mungkun sudah melakukan kesalahan!”

Tentu ini bukan karena Lisa tidak sempurna. Karena nobody perfect. Melainkan karena pada waktu pacaran sang pria belum sepenuhnya merasa memiliki sang gadis. Si wanita bisa sewaktu-waktu memutuskan hubungannya. Atau pria lain bisa menyalibnya kalau ia tidak bisa menarik perhatian sang pujaan hatinya.

Namun setelah menikah sang wanita adalah milikku. Disamping itu jarang orang mengkhawatirkan pernikahannya bakal hancur jika ia tidak menaruh hormat pada pasangannya. Kebanyakan orang berpikir bahwa hubungan ini akan berlangsung hingga akhir hayat. Sehingga ketika menikah seorang suami seolah mendapat peneguhan bahwa wanita di “sebelahku adalah milikku”. Saat ini dan sampai selama-lamanya

Sehingga wajar saja jika teman saya dengan angkuhnya mengatakan, ”Akte nikah menunjukkan jika istri ku berhak kupegang, kutiduri dan kutampar jika tidak patuh. Karena ia milikku”.

Namun menurutku pernyataannya tersebut bisa diartikan sang istri tak lain adalah properti sang suami, yang tidak beda dengan lemari, baju , jas, mobil dsb yang bisa diperlakukan sesuka hati.

Demikian juga seorang wanita. Ketika masih berpacaran ia merasa belum memiliki seorang pria secara utuh. Sampailah setelah menikah ia sepenuhnya menanggap “that guy is mine”. Jadi ia berhak mengontrol kehidupan sang suami termasuk mengintrogasi seluruh teman wanitanya, barangkali ada yang suka dengannya.

Sadarkan Anda arti kepemilikan. Ketika kita mengatakan bahwa mobil itu milik saya, maka pasti mobil itu tidak lebih tinggi dari saya derajatnya. Kalaupun saya marah ketika ada orang yang mengores mobil saya secara segaja, itu bukan berarti bahwa mobil berharga melainkan karena itu Anda anggap pelecahan terhadap diri Anda.

Intinya Anda menjadi yang terutama. Dan mobil itu harus bekerja sesuai dengan kebutuhan Anda. Dan bagaimana jika mobil itu kemudian ngadat atau rusak? Maka Anda akan menjualnya atau menjadikannya barang rongsokan.

Sama halnya ketika Anda mengatakan bahwa ”dia itu adalah istri saya”, atau ”si Toni itu suami saya” . Kadang kala ini berarti Andalah yang teristimewa dan pasangannya Anda harus menjadi seperti apa yang Anda inginkan.

Maka seorang istri menghadapkan suami adalah seorang yang gesit, gagah seperti ayahnya. Atau seorang suami menginginkan istrinya melayani dan patuh seperti ibunya. Atau masing-masing meletakkan standar yang harus dipenuhi pasangannya.

Namun bagaimana jadinya ketika si pasangannya tidak seperti yang diinginkan oleh sang istri atau suami. Bagaimana jika si istri ternyata tidak gesit malah ”lemot”. Sang suami ternyata mudah patah semangat dan tidak sehebat ayah sang istri. Maka timbul kekecawaan dan tidak mustahil berakhir pada sebuah percekcokan.

Mungkin kita sering merasa heran mengapa percekcokan adakalanya dipicu oleh hal-hal yang spele. Seperti istri yang marah hebat ketika sang suami tidak meletakkan gosok gigi pada tempatnya. Atau istri yang tidak berdadan ketika ia pulang. Tentu konyol hal-hal tersebut bisa menjadi konflik yang besar. Namun sesungguhnya bagi si pasangan yang kecewa, semua ini adalah bukti bahwa sang suami memiliki kebiasaan yang tidak sesuai dengan harapannya.

Si istri menghadapkan sang suami adalah pria yang displin sehingga wajar ia marah kalau sang suami sembarangan meletakkan sisir atau sikat gigi. Si suami mengingkan istrinya wanita yang anggun sehingga wajar jika ia emosi melihatnya istrinya gemar menggunakan celana jeans.

Jadi pertanyaan selanjutnya apakah pertengkaran tersebut adalah bukti ketidakdewasaan suatu hubungan? Benar. Mungkin Anda bakal memperolok-olok pasangan suami istri yang mengalami hal tersebut. Namun saya menyakini tidak ada keluarga yang bisa terlepas dari situasi demikian. Setiap pasangan akan mengawali hubungan rumah tangganya dengan egoisme tinggi, dengan tuntutan karena sekarang si wanita mantan pacarku sudah menjadi milikku demikian sebaliknya.

Hal inilah yang membuat mengapa seorang suami atau istri sangat kasar bicara dengan pasangannya namun santun dengan temannya. Karena temannya tidak bisa ia katakan menjadi miliknnya. Hubungan dengan teman adalah sederajat namun dengan pasangannya adalah tidak sederajat. ”Bahwa ia ada untuk melengkapi kehidupanku”. Sedangkan teman tidak demikian.

Maka percekcokan adalah momen yang menyadarkan Anda. Ingat hal yang menyenangkan kadang membuat Anda terlena. Mungkin pasangan Anda bisa terus memenuhi tuntutan Anda, namun sampai kapan. Karena ia memiliki kebutuhannya sendiri, kepribadiannya dsb.

Percekcokan sering kali adalah semacam syok terapi terhadap kepribadian kita yang arogan. Seolah pasangan kita berseru ” Aku punya hidupku sendiri yang perlu kamu hargai”. Pada saat inilah kita baru menyadari bahwa pasangan kita juga memiliki kebutuhan, kepribadian yang membutuhkan perhatian dari Anda.

Ia bukanlah ”barang” yang bisa Anda perlakukan seenaknya. Maka dengan adanya cekcok dan konflik demikian idealnya masing-masing pasangan akan mengubar cara pandangannya. Dari ” hak milik” menjadi seorang patner. Dimana kedudukan patner adalah sederajat. Jika suami dan istri mengharapkan mendapatkan sesuatu dari pasangannya ia juga harus memperhatian kebutuhan pasangannya tersebut. Disamping itu ia juga harus bertanya pada dirinya wajarkah tuntuntan ini kusampaikan padanya.

Maka dengan adanya percekcokan pasangan suami istri telah bergerak pada level yang tinggi dalam hubungan suami istri. Oleh sebab itu alasan pertama mengapa pasangan suami istri pernah bercekcok adalah karena seringkali hubungan tersebut diawali dari ” hak milik” adanya tuntutan sepihak bahwa sang istri atau suami harus bertindak sesuai dengan kebutuhannya pasangannya.

Namun hubungan demikian tidak mungkin bisa bertahan karena si pasangan memiliki kebutuhan dan kepribadiannya yang harus dihormati. Dengan adanya s sebuah percekcokan masa masing-masing pasutri diingatkan bahwa pasangannya adalah patner bukanlah benda mati yang bisa perlakukan seenaknya.

Ada Sesuatu yang Tidak Beres
Mengapa pasutri yang telah hidup bersama selama bertahun-tahun masih tetap mengalami cekcok. Tentu saja sebagaimana sudah diulas pada bab awal, bahwa ini menandakannya adanya ketidakseimbangan. Bahwa ada salah satu pasangan yang telah melewati batas sehingga perlu merubah diri agar keluargannya kembali harmonis.

Kehidupan setiap orang adalah sebuah irama yang kadang turun kadan naik. Kita kadang kali pernah merasa jenuh, frustrasi ataupun namun di satu sisi kadang kita sangat bersemangat. Mungkin kita suatu ketika sangat bersemangat mengejar karir. Atau mungkin kita tengah jenuh dan coba mencari kesenangan dari judi atau bergaul dengan orang lain.

Namun adakalanya cara kita menghadapi ketengahan atau mendapatkan kesenangan bisa membawa kita pada ketidakseimbangan. Bagi seorang wanita bergosip adalah hal yang menyenangkan.

Hanya saja ketika dilakukan secara berlebihan atau disampaikan kepada orang banyak malah bisa menjadi fitnah. Atau seorang pria yang berjudi untuk sekedar hiburan mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun ketika sudah menjadi kecanduan maka dampaknya menjadi serius, hartanya bisa menjadi ludes.

Kebanyakan dari kita seringkali tidak bisa mengontrok hasrat kita untuk mencari kesenangan. Sehingga kemudian menimbulkan masalah seperti kebiasaan mabuk oleh menimun keras, workholik, free seks, main judi, mall oriented, gemar permah wajah.

Jika Anda seorang diri dan tidak ada yang membutuhkan dan perduli dengan Anda maka lanjutkan. Namun ketika ada yang membutuhkan dan menyayangi Anda maka mereka akan berteriak mengingatkan Anda untuk merubah diri.

Saya terharu dengan usaha seorang istri menghilangkan kebiasaan suaminya berjudi. Ia tidak hanya memarahi si suami yang harus berakhir dengan pertengkaran hebat. Bahkan suatu ketika cekcoknya sangat hebat hingga tetangga harus turun tangan untuk melerai. Namun ia sampai harus dengan sengaja memberitahu kepada kawannya seorang polwan untuk mengrebek tempat perjudian suaminya. Alhasil setelah mendekam di penjara sang suami tobat. Namun bagaimana jika si istri diam saja tidak perduli?

Dan ada pertanyaan menarik bagi pada pria. Apakah Anda (pria ) menyukai istri yang tidak pernah menuntut, mendiamkan apa saja perlakukan Anda yang buruk, melakukan hal terbaik untuk Anda? Namun ia selalu terilhat tegar, dam tidak pernah menceritakannya perasaannya pada.

JIka iya selamat, Anda telah memilih wanita yang mungkin saja tengah mengalami problem emosional. Robin Norwood, seorang konsultan pernikahan, dalam bukunya menyebutkan in adalah gejala wanita yang memberikan cinta berlebihan untuk mengemis cinta dari pasangannya suami. Dan seringkali kali wanita demikian pada akhirnya menderita depresi yang tentu tidak baik bagi keluarganya.

Jadi dengan adanya suasana konflik yang tidak menyenangkan tentunya, pasangan yang telah melakukan penyimpangan terdorong untuk merubah diri. Sehingga suana tidak nyaman dari percekcokan reda dan ia terbebas dari hal yang menyimpang.

Saturday, 8 August 2009

MY BOOK: " MERAUP UNTUNG DARI BISNIS WARALABA KELAPA SAWIT"


Pranchise atau waralaba, beberapa tahun belakangan ini semakin marak meramaikan kancah bisnis di Indonesia. Saat ini, jenis waralaba yang diminati masyarakat tidak hanya waralaba di bidang kuliner dan toko swalayan. Ada satu jenis waralaba di bidang perkebunan yang cukup prospektif, yaitu waralaba bibit kelapa sawit.

Berdasarkan pengalaman para perwaralaba bibit kelapa sawit, bisnis ini bisa memberikan keuntungan hingga 65% dengan pendapatan rata-rata per bulan sekitar 13 juta rupiah. Andatertarik untuk memulai bisnis waralaba ini? Temukan semua informasi tentang waralaba bibit kelapa sawit dalam buku ini.

Penulis : Ir. Masra Chairani Dalimunthe, Ir. Alfred Sipayung, & Hendra H. Sipayung, SP., MM.
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : iv + 74 hlm.
Penerbit : AgroMedia Pustaka
ISBN : 979-006-243-5
Harga : Rp 23.000

Pemesanan dapatkan di toko buku Gramedia atau Gunung Agung, atau via Agromedia

Monday, 29 June 2009

REALITY SHOW DAN VULGARISASI TELEVISI


Menurut Burdrillard, kevulgaran pada media televisi tidak ditandai dengan ketelanjangan. Melainkan karena tidak lagi ruang private. Apa yang menjadi private tersingkap menjadi vulgar, terreduksi menjadi sebuah tontonan sekejab. Ketelanjangan tidak seketika menerobos ruang pribadi karena ada adengan yang dimainkan yang lepas dari realitas hidup si pelaku. Namun dalam sebuah kevulgaran ruang private yang kompleks dan menyangkut pribadi yang paling telanjang, karena adanya ekspresi yang bersifat personal tersingkap menjadi tontonan murahan.

Peringatan akan kevulgaran yang diangkat oleh Budrillard seolah menjadi sebuanya kenyataan saat ini. Setidaknya ini dibuktikan dari maraknya acara reality show yang mengangkat kehidupan nyata dari orang-orang . Mulai dari sekedar untuk mengungkap perasaan terdalam sebagai bukti cinta hingga membongkar kebohongan pasangan suami istri. Semua menjadi tersingkap secara telanjang. Tidak ada lagi tembok-tembok kamar yang biasa menuntupi konflik pribadi. Semua sekejap menjadi terbuka melalui layar televisi.

Reduksi Pengalaman Hidup
Perselingkuhan, ungkapan cinta, konflik dan maaf adalah bagian dari kehidupan yang kaya akan makna. Karena ada dimensi kontemplasi di dalamnya yang bisa merubah arah kehidupan seseorang. Hal ini mengakibat setiap segmen kehidupan yang paling kritis maupun paling mendebarkan, dalam berbagi kultur disakralkan. Bahkan dalam masyarakat paling kolektif sekalipun persoalan rumah tangga dan antar keluarga tidak dapat serta merta dicampuri oleh pihak lain.

Hal ini karena ada sebuah nuansa perasaan dan kompleksitas kesadaran yang tidak dipahami oleh orang lain. Kehidupan bersama dan pergaulan menciptakan sebuah dunia yang dialami bersama, yang tidak serta merta dapat diakses oleh orang lain di tersebutluar margin hubungan. Hanya diantara mereka yang berinteraksi nuansa tersebut dapat dikomunikasikan dan kemudian menjadi titik untuk menentukan arah kehidupan selanjutnya.

Namun ketika kompleksitas hubungan tersebut menjadi bagian dari sesuatu yang dipertontonkan. Maka elemen kompleksitas manusia menjadi samar. Berbagai konflik terreduksi menjadi sekedar tontonan. Yang real menjadi disamakan dengan yang tidak real. Reality show penyelesaian konflik sebuah rumah tangga yang bakal berdampak bagi kehidupan mereka pasangan suami istri demikian juga kepada anak-anaknya bagi penonton tidak lebih berharga dari sebuah tayangan komedi atau kuis yang ditampilkan tidak secara alami. Bahkan didramatisir, dengan musik maupun pembawa acara yang menciptakan konteks sedemikian rupa agar menyerupai kisah kehidupan nyata tersebut menjadi melodrama yang mengetarkan.

Etika vs Kevulgaran
Oleh sebab itu meskipun acara reality show sama menguntungkannya dengan sebuah acara sinetron striping, menjadi pundit-pundi penjaring iklan. Namun tidak serta merta ruang pribadi dapat dibredel dengan alasan profit.

Kalaupun mereka yang mengekspos kehidupan pribadnya adalah berdasarkan keputusannya sendiri. Namun popularitas dan materi dapat membuat seseorang buta akan sakralnya ruang pribadinya. Dan ada baiknnya stasiun televis ikut menjaganya.

Menghadapi manusia berarti menghargai ruang dimana ia menentukan arah hidupnya. Biarlah ruang itu tetap sakral dan tidak menjadi sebuah tontonan yang mereduksi maknanya semata-semata sebagai tontonan yang bersifat hedonisme.

Sebagaimana televisi memiliki etika yang membatasi dalam penayangan acara. Khususnya untuk acara-acara kekerasan maupun seksual. Namun kekerasan dan ketelanjangan yang sama juga ada dalam penyingkapan berbagai konflik yang sangat pribadi. Oleh sebab itu televisi perlu dibatasi untuk menangkat hal yang berhubungan dengan kehidupan nyata yang kaya akan nuansa perenungan. Dan tidak menjadikannya semata-mata tanyangan pengisi jam tayang untuk mendatangkan pundit-pundi uang dari iklan.

Tuesday, 23 June 2009

JIKA ANDA SUKA MEMBAWA LAPTOP DALAM MOBIL, WASPADALAH!!!


Para pelaku kejahatan tidak pernah lelah menciptakan modus-modus baru untuk mencuri barang berharga. Salah satunya yang sering menjadi sasaran adalah Leptop. Mengingat harganya cukup mahal, mudah dijual dan gampang dicuri. Sehingga pelaku pencurian berupaya mendapatkan barang berharga tersebut dengan cara-cara yang dapat memperdaya pemiliknya.

Seperti halnya yang baru ini saya alami. Laptop milik kantor dengan merek Toshiba lenyap dengan mudah, dicuri dari dalam mobil saya. Kejadian ini terjadi tepat di pintu keluar Universitas Indonesia Depok, pada hari Senin jam 10.00 WIB( 21/6/09).

Pada saat itu saya memutuskan membawa mobil agar tidak repot menenteng laptop dan tas. Karena kalau naik angkot bisa dibayangkan repotnya. Setelah saya melewati Guna Darma, tepat sebelum jembatan kali Ciliwung, seorang pengendara motor berupaya menarik perhatian saya. Ia memberi kode, menunjukkan jika bagian ban belakang mobil kempes. Dan seketika itu ia berlalu.

Tentu saya spontan menurunkan kecepatan untuk kemudian meminggirkan mobil. Dan tepat setelah jembatan Ciliwung saya meminggirkan mobil. Kemudian saya turun, namun sebelumnya saya mengunci pintu.

Tapi anehnya ketika saya periksa sepertinya tidak ada kerusakan. Sayapun memutuskan kembali melanjutkan perjalanan.

Namun belum sampai beberapa puluh meter tepat jalan masuk ke Kampus UI, seorang pengedara motor kembali menarik perhatian saya. Ia juga menunjuk-nunjukkan bagian belakang mobil seolah ada kerusakan. Sebagaimana pengendara motor sebelumnya, ia kembali berlalu,

Sayapun segera meminggirkan mobil tepat di depan kompleks penjual bunga setelah pintu keluar kampus UI. Namun ketika saya turun, seorang pengedara motor lain mendekat saya. Ia memberitahu kalau ada baut yang lepas dari ban mobil.

Spontan saya periksa ban dan anehnya baut terpasang dengan baik tanpa sempat mengunci pintu mobil. Seketika itu ia bergegas meninggalkan saya.

Saya cek-cek lagi bagian samping kanan mobil, sepertinya tidak ada masalah. Namun ketika melihat ke sebelah kiri ternyata pintu mobil bagian samping sudah terbuka.

Dan saat saya mengecek ke dalam mobil ternyata hanya tas saya yang tertinggal. Sedangkan tas laptop sudah raib. Kejadian tersebut membuat saya lemas seketika.

Pada hari yang sama saya melaporkan ke Polisi di wilayah Jakarta Selatan, ternyata pencurian dengan modus tersebut sudah sering sering. Khususnya di kawasan Depok hingga Tanjung Barat.

Polisi sedang berupaya menangkap pelaku pencurian tersebut. Namun kesulitannya mereka sangat mobil dan berpindah-pindah. Pihak kepolisian mengatakan jika modus ini dilakukan secara berkelompok.

Oleh sebab itu jika Anda sering membawa Laptop berpergian dengan mobil Anda, sebaiknya berhati-hatilah. Banyak pelaku pencurian yang mengincar barang berharga tersebut.

Jika membawa Laptop simpanlah di tempat tersebunyi yang tidak bisa dilihat dari balik kaca mobil. Semisal di bawah jok. Atau gunakan penutup yang tidak seperti tas laptop, seperti tas pundak, dsb.

Seandainya ada orang yang menarik perhatian Anda dengan menujukkan seolah ada kerusakan pada mobil Anda, jangan segera berhenti. Tetaplah melaju sampai Anda menemukan tempat yang aman dan ramai. Ketika Anda turun kuncilah pintu.

Oleh sebab itu waspadalah setiap saat. Karena saat ini pelaku-pelaku kejahatan berkeliaran dimana-mana. Termasuk di lokasi-lokasi yang mungkin sering Anda lalui.